Panasonic HX-A100 Wearable Camera: See What I See

Good Morning!

Rencana gw untuk nyeritain pengalaman menggunakan A100 ini sebenernya malam minggu kemaren, tapi ternyata tempat gw ngeteh di Coffee Club Street Gallery ga asik. Wifi ga ada yang bisa dipake, udah gitu provider terbesar se-Indonesia yang jadi nomer utama gw juga internetnya ga jalan sama sekali. Gagal deh rencananya.

Cukup colongannya yaa…

Waktu pertama kali ngedenger Panasonic punya produk buat nyaingin GoPro, langsung tertarik. Eh, ternyata dateng juga ke kantor, jadi bisa dipinjemin untuk dicobain kan. Oia, sebelumnya, gw ga punya GoPro, tapi pernah pake waktu turing ke Jogja selama beberapa menit. Jadi gw ga bisa bandingin terlalu banyak dengan GoPro.

Sebagai pembukaan, coba liat dulu keunggulan utama kamera ini.

Records Full HD 1080/60p Video
Slow Motion 720p at 120fps
Capture 5.3MP Still Photos
Wi-Fi and LiveChannel Streaming
Water Resistant to a Depth of 5′
Camera Head Weighs only 1.06 oz
Includes Earhook and Armband
Automatically Compensates for Tilt
Built-in Rechargeable Battery
Uses microSD and microSDHC Cards

Ini bentukannya

Design

Berbeda dengan GoPro yang unitnya all-in-one, A100 ini punya 2 bagian yang terpisah, unit untuk mengontrol kamera dan lensa kameranya sendiri. Dihubungkan dengan kabel yang cukup tebal, mungkin karena harus anti air yaa. Kamera ini di desainu untuk bisa digunakan di aktifitas yang lumayan ekstrim tanpa peralatan tambahan,. Jadi, out-of-the-box kita udah bisa make kamera ini untuk ujan ujanan atau debu debuan. 
Di dalam paketnya sendiri disediakan earhook dan armband. Earhook gunanya untuk menaruh bagian lensa A100, sementara main body nya ditaruh di lengan kita. 
Jadinya kayak gini nih:
Nah, model penggunaan seperti ini bisa terlihat kalo A100 bakal ngerekam gambar dengan sudut pandang yang sesuai dengan kita, jadi apa yang kita lihat, itu yang akan direkam, See What I See.
Ini ada contoh untuk perbandingan Point of View beberapa kamera sejenis.
Selain itu, terdapat juga tambahan untuk menggunakan A100 di helm ataupun di tas, jadi emang fleksibel aja nih kamera mau taruh dimana aja bisa. 
Di main body terdapat Wi-FI dan NFC untuk konektifitas ke perangkat smartphone seperti iOS dan Android.

Test Pemakaian

Gw sempet coba test pemakaian kamera ini untuk turing ke Lampung kemaren. Cuman, kameranya ini ga gw tempel di helm, tapi gw tempel di setang motornya. Yang gw suka dari kamera ini dia punya dua mode pengambilan gambar, wide dan normal. Gw kebanyakan pake wide. Resolusi yang gw gunakan juga macem macem, kadang pake 720p atau ada juga yang Full HD 1080p, untuk lebih jelasnya yuk kita langsung tonton aja videonya.

Kalo diliat dari hasilnya, gw merasa sangat puas. Gambarnya bener bener tajem dan jernih, warnanya juga akurat. Image Stabilizer nya juara banget, gw waktu pertama kali pasang di stang nero agak takut hasilnya bakal blurring atau shaking, tapi ternyata minimal banget shaking nya. Salut sih gw untuk ini, padahal di stang itu getarannya lumayan keras.

Nanti malam disambung lagi…..

Advertisements

Published by

topiqfurqan

an ordinary little boy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s