[REVIEW] Xiaomi Powerbank 2 10.000mAh : Quick Charge 2 Arah

Hello,

battery2-02b.jpg

Smartphone menjadi barang primer yang kita bawa sehari hari, kegunaannya belakangan menjadi tak tergantikan. Bahkan bisa saja kita lebih sedih ga bawa smartphone daripada ga bawa dompet, karna fungsi dompet sendiri bisa digantikan smartphone. Sayangnya, nyawa smartphone saat ini bergantung kepada batere. Sehingga, apabila batere abis maka smartphone kita ga bisa digunakan.

Sampai sekarang, perkembangan batere smartphone belum terlalu signifikan. Pabrikan smartphone belum bisa memproduksi batere dengan kapasitas besar namun hemat tempat. Pilihannya agak sulit, ingin membuat smartphone dengan desain menarik, maka komponen utama yang paling mudah dikorbankan adalah batere. Sebaliknya, apabila menginginkan daya tahan yang besar, makan harus menambahkan kapasitas batere yang berarti ketebalan smartphone mesti dikorbankan.

P1030829

Hal inilah yang membuat powerbank hadir, apalagi kebanyakan pengguna smartphone adalah orang yang mobile. Orang yang tidak ingin kehilangan moment apapun ketika mereka sedang menjalani kegiatannya. Powerbank sendiri awalnya adalah batere silinder berukuran besar (lebih besar dari AA namun lebih kecil dari batere D) yang diberikan casing dan circuit board. Prinsip kerjanya sangat sederhana, memindahkan listrik dari rumah ke dalam batere yang ada didalamnya, lalu listrik tersebut disalurkan kembali ke smartphone kita.

Masalahnya, ukuran powerbank biasanya lebih besar daripada ukuran smartphone nya, bisa 2 hingga 3 kali lipat. Maka dapat dibayangkan waktu untuk mengisi powerbank tersebut. Pengalaman gw, dulu ketika punya powerbank ukuran 5100mAh, waktu yang diperlukan untuk mengisi powerbank tersebut hampir 6 jam. Asumsinya setiap 1000mAh memerlukan waktu 1 jam pengisian menggunakan charger dengan output 1A. Jadi sewaktu kita akan tidur, biasanya kita akan mengisi batere smartphone dan batere powerbank kita, karena apabila kita lupa mengisi, tidak akan cukup waktu di pagi hari untuk mengisinya sampai penuh.

Belakangan teknologi batere smartphone berkembang, tapi disisi pengisian. Yang tadinya menggunakan arus 1A, berkembang menjadi 2A yang membuat pengisian batere menjadi lebih cepat. Ditambah lagi, ada teknologi quick charge yang bisa mempercepat pengisian batere dengan menaikkan tegangan listik pada saat pengisian. Dimana umumnya tegangan yang digunakan adalah 5V, makan pada teknologi quick charge bisa mencapai 9V, bahkan yang terbaru bisa 15V.

Xiaomi Powerbank 2 10.000mAh

P1030823

Kebanyakan smartphone terbaru sudah menggunakan teknologi quick charge ini, walaupun dengan berbagai macam nama seperti Fast Charge di Samsung, VOOC charge di Oppo, Dash Charge di Oneplus, atau yang paling populer Qualcomm Quick Charge. Apapun istilahnya, smartphone dengan teknologi seperti ini bisa menerima voltasi dan arus yang lebih tinggi dibandingkan biasanya. Untuk quick charge sendiri, selain smartphone yang mendukung, chargingnya juga harus bisa mendukung dan compatible dengan teknologi yang digunakan.

Jadi, apabila adaptor kita hanya bisa mengeluarkan output 1A sementara smartphone kita bisa menerima 2A, maka arus yang masuk hanya 1A. Begitu juga sebaliknya, apabila adaptor kita bisa mengeluarkan output 2A namun smartphone kita hanya bisa menerima 1A, makan arus yang masuk hanya 1A. Disinilah pentingnya mengetahui berapa arus yang bisa diterima smartphone kita, dan berapa arus yang bisa dikeluarkan dari adaptor dan powerbank kita.

P1030828

Powerbank dengan output fast charging sangat diperlukan untuk bisa memberikan output yang besar ke dalam smartphone sehingga waktu charging menjadi lebih singkat. Namun biasanya, powerbank hanya bisa menerima input 1A. Disinilah keunggulan dari Xiaomi Powerbank 2 ini, dimana ia bisa mengeluarkan output hingga 2.4A dan menerima arus yang diterima maksimum 2A, tegangan yang dapat didukung sendiri hingga 12V baik input maupun output. Tegangan dan arus ini tentu bervariasi bergantung pada kebutuhan powerbank itu.

Seperti kita tahu, batere pada umumnya (di smartphone maupun powerbank) membutuhkan tegangan dan arus yang kuat di awal pengisian. Nantinya setelah mencapai 80-90%, keduanya akan menurun secara signifikan, ini yang dinamakan trickle charge. Kadang waktu charging yang diperlukan saat trickle charge sama dengan pada saat mengisi dari 0% – 80%.

P1030831

Di specnya, Xiaomi memberikan rujukan, apabila mengisi dengan adaptor 5V dan 2A, maka waktu yang diperlukan sekitar 6 jam. Namun apabila diisi menggunakan adaptor 9V dan 2A, maka waktu yang diperlukan untuk mengisi turun menjadi sekitar 4 jam.

IMG_5615
Input 8.8V dan 2A

Sementara untuk sisi output, powerbank ini mampu mengisi batere Galaxy S8 (3000mAh) dalam waktu 1,5 jam. Sama dengan waktu yang diperlukan apabila kita menggunakan wall charger yang diberikan oleh Samsung.

IMG_5614
Output 8.9V dan 0.8A

Selain kemampuan untuk menerima input dan output dengan cepat, Powerbank Xiaomi ini juga dapat diset low power charging yang biasa digunakan untuk mengisi fitness band ataupun bluetooth headset. Namun yang cukup disayangkan adalah, hanya ada 1 port USB di powerbank ini. Padahal dengan batere 10.000mAh, seharusnya powerbank ini dapat mengisi 2 gadget sekaligus apabila diberikan tambahan port USB. Untuk pengisian, powerbank ini masih menggunakan port micro USB, belum USB Type C.

Dengan kisaran harga Rp 200rb an, maka powerbank ini bisa dijadikan pilihan utama apabila kalian berpikiran untuk membeli powerbank. Mengingat performa yang dihasilkan melebihi ekspektasi sebelumnya. Jadi, apabila kalian berencana untuk membeli powerbank dengan harga yang cukup terjangkau, tidak ada salahnya untuk memasukkan powerbank ini ke dalam list. Karena dengan fitur yang serupa, merk lain biasanya menjual dengan harga 2 atau 3 kali lipat.

Semoga bermanfaat

Regards,
Taufiq

Advertisements

[REVIEW] IndiHome Fiber : Harganya Mulai Bersaing dengan Tetangga

Hello,

header-indihome-telkom

Pengalaman gw, anak generasi 90an, untuk langganan internet dimulai dari dial up telkomnet instan yang sejamnya hampir Rp 10rb dan kecepatannya 56kbps. Setelah itu di tahun 2000an pindah ke teknologi ADSL dengan kecepatan 384kbps, waktu itu biayanya sekitar Rp 200rb per bulan tapi pake kuota entah berapa GB sebulan. Sekitar taun 2007 pesaing muncul bernama Fastnet, waktu itu langsung keluar paket unlimited 384kbps dengan biaya langganan Rp 99rb per bulan. Cuman memang kekurangannya Fastnet itu jaringannya masih terbatas banget.

Tapi emang perusahaan grup Lippo ini serius banget mau nyebarin internet unlimited terjangkau ke perumahan, maka di tahun 2010 (seinget gw) masuk deh fastnet ke rumah gw dulu di Depok. Gw langganan paket paling murah kayaknya, yang penting internet udah unlimited dan dapet tv kabel juga, sebelumnya pake Speedy gw langganan tv kabel pake Indovision. Dan emang Firstmedia ini tiap tahun naik harga, jadi mau ga mau tiap tahun juga kita mesti minta harga promo ke Customer Service atau ancem putus, biar harganya ga naik. Sampe tahun 2014 ada provider baru namanya Innovate (sekarang MyRepublic), yang sempet gw bikin reviewnya disini.

in1

Habis nikah, gw pindah ke Jatibening, satu hal yang bikin gw sedih ninggalin rumah orangtua adalah akses internetnya, disini pilihannya cuman Firstmedia atau Indihome. Dan kayaknya waktu itu Indihome nya belum fiber, jadi selain mahal internetnya juga lelet, jadi 2 tahun lalu gw pindah kesini langsung pasang FM, enaknya FM juga ga perlu punya no telpon rumah untuk pemasangan.

Trus sekarang kenapa pindah ke Indihome Fiber?

  • Harganya mulai bersaing

Langsung aja kita bahas dari alasan pertama ya, harganya mulai bersaing. Di awal kemunculan Indihome Fiber ini seinget gw mereka cukup mahal, untuk paket 10mbps biaya perbulannya 500rb lebih (dibanding Fastnet sekitar 350rb). Entah apa alasannya, tapi salah satunya karena komponen paketnya juga mendapatkan kuota telpon rumah gratis selain UseeTV dan paket internetnya.

Kalo kita liat dari webnya masing masing, paket Firstmedia (FM) paling murah saat ini adalah D’lite, sementara untuk Indihome paling murah adalah Netizen 2P. Karena FM tidak punya layanan telepon, maka yang bisa dibandingkan adalah paket 2P ini, Internet dan TV kabel. berikut perbandingannya.

compare

Note:

  • Paket Family hanya berlaku di area tertentu
  • Speed upgrade Firstmedia berlaku 6 bulan
  • Harga promo berlaku untuk 1 tahun (setelah itu telpon CS ancem putus biar dapat harga sama lagi)
  • Pake Netizen 1P 10 adalah internet only, tanpa TV kabel. Daftar hanya bisa melalui Plaza Telkom

Diliat dari tabel perbandingan diatas, harga IndiHome sangat bersaing, bahkan kalo tidak promo (diskon dan speed upgrade) harga Firstmedia lebih mahal. Selain itu terdapat perbedaan dari jumlah channel TV kabel dimana disini Firstmedia lebih unggul. Jadi memang kalo dirumah masih ada keluarga yang hobi nonton siaran TV (generasi zaman Now biasanya cukup youtube sama aplikasi nonton macam Netflix, Hooq, Viu, dsb) ya memang sebaiknya pilih Firstmedia. Tapi kalo pengen nonton bola di BEIN, sayangnya kalian mesti pilih IndiHome karena Firstmedia ga menjual siaran BEIN sama sekali, even dengan tambahan biaya.

  • Teknologi lebih canggih dari Firstmedia

IndiHome fiber sudah memakai teknologi FTTH, Fiber To The Home. Jadi sambungan kabel dari pusat bandwith (di kantor Telkom sana) sampai ke rumah kita pakenya kabel Fiber optik, canggih. FM secara umum masih menggunakan teknologi HFC, Hybrid Fiber Coaxial, dimana kabel yang keluar dari pusat bandwith menggunakan kabel Fiber, namun kabel yang ditarik ke rumah adalah kabel Coaxial (seperti kabel antena TV). Kelemahan yang paling kita rasain adalah upload speed dari HFC lebih rendah dibandingkan FTTH. Upload speed ini penting, apalagi kalo internet rumah kita banyak yang pakai, atau waktu kita mau backup data di cloud. terlebih buat youtuber yang mau upload videonya.

Video penjelasan Fiber vs Copper

Untuk TV kabelnya sendiri gw ga bisa banyak komen karna ga pake, tapi yang gw tau UseeTV itu bisa merekam tayangan yang udah kita lewatin, itu aja sih setau gw. Karena kalo di compare channel sih udah pasti menang FM, udah gitu FM sendiri sekarang udah mulai trial channel berdefinisi super tinggi 4K.

Dua hal diatas yang saat ini menjadi pertimbangan gw untuk coba IndiHome lagi. Dan lumayan hoki, pas kemaren pasang gw ga langsung webnya atau via app, tapi gw cari sales di OLX dan ketemu, follow up nya cepet banget. Hari rabu nanya nanya dan kasih data, tadinya kamis siang mau dipasang, tapi karna ga ada orang di rumah jadinya dipasang sabtu pagi dan langsung nyala. Teknisinya sendiri bilang sih ini lagi cepet tumben, biasanya kadang dari pusatnya agak lama untuk aktivasinya. Selain itu gw juga salut teknisinya dateng sendiri naik motor dan tangga lipet, canggih kerjanya sendirian, dan emang gw liat modalnya nyali aja sih.

Tiap customer dapet kabel fiber sepanjang 100m, dan ini akan langsung ditarik kedalam rumah, kebetulan tiang telkomnya di seberang rumah jadi dia gampang pasangnya. Dan kerjanya cepet, kayaknya ga sampe sejam sih, dia masang dan naik ke genteng 30 menit, sisanya sekitar 20 menitan nunggu aktivasi. Trus dia pulang, gw sediain gorengan dia bilang baru abis sarapan, gw mau kasih duit dia bilang ga usah. Jadi emang kita ga bayar sama sekali. Oia untuk biaya pemasangan sendiri sekitar Rp 150rb untuk paket 2P dan paket premium Rp 75rb.

Karena baru sehari pake, jadi belum keliatan nih problemnya, dan FM masih dipasang di rumah gw jadi masih mixed lah internetnya. Kebanyakan gadget di rumah gw masih connect ke wifi yang lama, karena gw males juga untuk registrasinya, nanti aja kalo udah dicabut FM nya.

Hasil Speedtest FM vs Indihome

Firstmedia paket Dlite 10Mbps

IndiHome paket Netizen 2P 10Mbps

Oia, salah satu yang perlu diperhatikan kalo Indihome ini meskipun unlimited tapi dia punya FUP (Fair Usage Policy) atau kuota. Tujuannya emang untuk membatasi orang supaya ga kebanyakan makenya. Untuk paket termurah sendiri FUP nya 300GB sebulan (setara dengan 1000 film), setelah itu kecepatan internet akan turun 25% (misal dari 10mbps ke 7,5mbps).

FUP

Gw sendiri berdasarkan pengalaman seminggu biasanya pake 20GB, jadi kalo sebulan ya sekitar 80 – 100GB, cukup lah dengan FUP segini. Sementara kalo FM beda lagi, dia ga ada FUP tapi lebih ke speed throttling, jadi kalo kita lagi download file nanti dia akan turun speednya selama beberapa saat trus balik ke normal lagi.

Sekian aja dari gw, semoga bermanfaat dan ga bingung ya, adios.

Regards,

Taufiq

 

[HOW TO] Pindahin History Chat WhatsApp dari iPhone ke Android

 

Hello,

hqdefault.jpg

Upgrade smartphone sudah merupakan hal yang lazim buat kita. Normalnya sih 2 tahun sekali, tapi karna setiap pabrikan meluncurkan hape baru tiap tahun, kadang bisa aja kita ikutan upgrade. Saat ini ada 2 sistem operasi yang umum dipakai di smartphone yaitu iOS dan Android. Kalo kita upgrade smartphone dengan sistem operasi yang sama, maka kemungkinan timbul masalah akan sangat sedikit, apalagi kalo merk hapenya sama. Tapi apabila kita pindah dari salah satu sistem operasi yang satu ke yang lain, mulai deh beberapa hal tidak berjalan sempurna.

Kali ini gw mau nunjukkin caranya pindahin history chat WhatsApp dari iOS ke Android. Oia, disini gw berasumsi kalo kalian udah backup data data lain kecuali WhatsApp (karena emang ga bisa). Sebelum memulai, ada beberapa software yang diperlukan.

  1. iTunes : untuk backup device iOS (PC, Free)
  2. iBackup Viewer : untuk mengcopy file backup chat WA (PC, Free)
  3. Wazzap Migrator : untuk extract file backup ke format Android (Android, Rp 44rb)

Nah kalo udah siap semua, mari kita mulai prosesnya.

Step by step, migrasi history chat WA dari iOS ke Android:

  • Buat backup iPhone di iTunes (manual backup)

    macos-itunes12-7-iphone7-summary-backups

  • Pindahkan file chatstorage.sqlite ke storage smartphone Android

    • Buka iBackup Viewer
    • Pilih latest backup iTunes (apabila ada beberapa file backup)

1_ibackupviewer_0

2_ibackupviewer_0

    • Cari file ChatStorage.sqlite di folder AppDomainGroup-group.net.whatsapp.WhatsApp.shared copy ke dalam folder sementara dengan cara memilih Export -> Selected

3_ibackupviewer_n

    • Apabila ingin memindahkan media (history foto di WA) cari folder AppDomain-net.whatsapp.WhatsApp -> Library pilih folder media dan pindahkan ke folder sementara dengan klik Export -> Selected (tidak direkomendasikan apabila fotonya terlalu banyak, karna proses restore akan lebih lambat)

4_ibackupviewer_n

  • Pindahkan file backup ChatStorage.sqlite dan Media ke smartphone

    • Install WazzapMigrator dari Play Store (Rp 44rb)

Wazzapmigrator

    • Pindahkan file ChatStorage SqLite  dan Media ke dalam folder WazzapMigrator yang ada di smartphone Android (disarankan menggunakan kabel data, biasanya folder tersebut ada di Internal/Phone Storage)

windows_wazzapmigrator_folder

where_put_chatstorage_moved

  • Extract backup iPhone ke format backup Android

    • Install WhatsApp
    • Logout semua Google Account yang ada di hp Android (biasanya WA akan search backup di Google Drive baru cari ke Local backup)
    • Masuk ke WazzapMigrator akan ada notifikasi ChatStorage.sqlite found, apabila sudah sesuai langsung klik tombol Start (>)
    • Waktu extract bergantung terhadap berapa besar backup yang ada, sebagai gambaran, untuk history chat 450MB waktu yang diperlukan sekitar 15 menit. Apabila ada foto, maka akan lebih lama lagi waktunya.
    • Ketika selesai, masuk kedalam aplikasi WA, setelah memasukkan nomor telpon, WA akan menemukan local backup di smartphone (file yang dibuat WazzapMigrator)

Nah,  itu dia step by step pindahin history chat WA dari iOS ke Android, ga terlalu sulit kan? Oia, untuk proses sebaliknya, pindahin chat WA dari Android ke iOS gw sendiri belum coba, tapi mestinya sih bisa, hehe. Oke, semoga berguna tutorialnya, kalo ada yang mau ditanyakan silahkan langsung komen dibawah.

Regards,
Taufiq

 

 

[INFO] Nokia 8 : Flagship Terbaru dari Nokia

Hello,

nokia_8-closeup-left

Belakangan nama Nokia muncul lagi, setelah dibeli oleh HMD Global, Nokia kini secara terus menerus meluncurkan produk baru. Dan sepertinya mereka sangat serius untuk balik lagi ke dunia mobile phone ini. Punya modal nama besar yang masih diingat orang sampai saat ini, karena terkenal hapenya bagus dan awet, mestinya bisa dengan cepat mengalahkan sodara sodaranya sesama pabrikan Tiongkok.

Untuk bersaing sebagai smartphone Android, ga cukup dengan menggunakan spesifikasi internal paling tinggi ataupun software Android terbaru. Tapi juga mesti punya keunikan dan ciri khas yang tidak dipunyai pesaing. Nah, smartphone Android yang diluncurkan Nokia ini memang rata rata mempunya desain yang cukup menarik. Kali ini kita bahas calon flagship mereka yaitu Nokia 8.

nokia_8-design

Entah kenapa, di tahun 2017 ini banyak produsen smartphone yang meluncurkan flagship dengan angka akhiran 8, mungkin karena 1 ditambah 7 = 8 (ngaco). Trio flagship Samsung (S8, S8+, dan Note8), iPhone gagal (8 dan 8+), dan sekarang ada Nokia. Kalo melihat dari desainnya, Nokia 8 ini terlihat sangat menarik, karena modelnya simple dan slim. Selain itu, di bagian belakang sudah tertanam 2 kamera dengan tulisan tegas Zeiss. Yup, kali ini Nokia bekerja sama lagi dengan pembuat lensa Carl Zeiss.

Namun entah mengapa, layar depan Nokia 8 ini terlihat kurang kekinian. Walaupun bezelnya sudah tipis, tapi bagian atas dan bawah layar masih terlalu tebal untuk smartphone flagship 2017. Sebagai perbandingan, Galaxy S8 dengan ukuran sedikit lebih kecil mempunyai layar yang lebih besar 0.5″ dibandingkan Nokia 8 (5.8″ vs 5.3″) . Padahal kalo aja bisa memaksimalkan bagian depan dengan layar yang lebih luas, pastinya Nokia 8 mempunyai nilai jual lebih tinggi.

nokia_8-color_variant-tempered_blue-satin

Untuk spesifikasi internal sendiri sudah khas flagship dengan prosesor Snapdragon 835 dan RAM 4GB atau 6GB. Pilihan storage mulai 64GB dan 128GB serta dapat diperluas menggunakan microSD hingga 256GB. Lainnya silahkan sebut, dual band WiFi, GPS dan GLONASS, Bluetooth 5.0, USB type C, dan fingerprint sensor yang masih ada di bagian depan.

Satu hal yang ingin ditonjolkan di Nokia 8 ini adalah fitur Dual-Sight yang bisa mengambil gambar pada kedua bagian kamera, depan dan belakang. Kamera belakangnya sendiri memiliki 2 buah lensa yang mempunya resolusi 13MP dengan bukaan f/2.0 dibuat oleh Carl Zeiss. Agak kurang menarik apabila melihat spesifikasi kameranya, namun lensa dari Zeiss kemungkinan besar akan memberikan perbedaan besar terhadap gambar yang dihasilkan.

nokia_8-zeiss-overflow

Untuk kamera depan sendiri beresolusi sama 13MP dan bukaan f/2.0. Sepertinya dengan bukaan selebar ini cukup sulit untuk melakukan wide selfie seperti kompetitor lainnya. Namun, perlu digaris bawahi kalo kamera depannya ini bisa merekam video hingga resolusi 4K pada 30fps sama dengan kamera belakangnya.

Trus, apa sih fitur Dual-Sight itu? Simpelnya, fitur ini memungkinan kita untuk berbagi momen menggunakan kedua kamera yang ada di depan dan belakang dan streaming langsung melalu Facebook Live ataupun Youtube Live. Menarik bukan? Dengan fitur ini, kita bisa membagikan momen yang sedang kita lakukan sambil tetap vlogging di depan kamera. Jadi penonton ga bosen antara hanya melihat momen saja atau hanya melihat muka kita saja.

nokia_8-cameras-dual_sight

Selain itu, Nokia 8 punya fitur audio yang dinamakan OZO AUDIO. Dengan fitur ini, kita bisa merekam video 4K berikut dengan suara disekitarnya dengan amat jelas (360′ Audio). Sehingga, video kita akan tampak lebih realistis ketika ditonont. OZO Audio ini banyak digunakan oleh filmaker dan produse musik di Hollywood.

Tertarik untuk membeli smarphone ini? Saat ini Nokia 8 sudah mulai dijual di Tiongkok dengan harga Rp 6jt an. Dengan harga segitu, tentu saja cukup menarik dengan fitur dan spesifikasi yang ditawarkan. Semoga Nokia Indonesia bisa membawa Nokia 8 untuk dijual disini.

Kalian tertarik untuk nostalgia ke hape merk lama fitur terbaru?

Regards,

Taufiq

[INFO] iPhone 8 : Penjualannya tidak sebagus Spesifikasinya

Hello,

iphone8colors1

Udah lama banget ga nulis, kali ini mau bahas iPhone 8. iPhone yang menurut gw pribadi cacat nama karena seharusnya diberikan nama 7S dan 7S Plus. Entah kenapa Apple bikin blunder dengan taruh nama seperti ini.

Sebuah perusahaan riset di Amerika yang bernama CIRP (Consumer Intelligent Research Partner) mengatakan bahwa penjualan iPhone 8 jauh lebih kecil dibandingkan seri iPhone “S” lainnya. Hal ini terlihat dari hasil penjualan 3 bulan terakhir. Dari semua iPhone yang terjual, iPhone 8 (dan 8 plus) berkontribusi 16% terhadap toal penjualan, dibandingkan penjualan iPhone 6S (dan 6S Plus) sebanyak 24%.

Padahal, menurut mereka, biasanya seri iPhone terbaru di waktu peluncuran ini dapat menyumbang lebih dari 40% penjualan. Seperti yang terjadi tahun sebelumnya, dimana iPhone 7/Plus menyumbang 43% di waktu yang sama, semntara iPhone 6/Plus 43%.

Selain itu, dari data dapat dilihat bahwa konsumen lebih memilih model lama dengan harga yang lebih menarik (iPhone 7/Plus) dibandingkan membeli iPhone 8. Terlihat di waktu ini 58% konsumen lebih memilih untuk membeli iPhone model tahun lalu. Kemungkinan lain, konsumen lebih memilih untuk menunggu iPhone X (baca: Ten) yang akan mulai dijual akhir Oktober ini.

cirp1

Di sisi lain, terdapat bocoran bahwa Apple memotong pesanan produksi iPhone 8 hingga 50% terkait dengan penjualan yang tidak sesuai dengan ekspektasi.

Tampaknya, meskipun dari sisi internal mengalami upgrade yang cukup signfikan, tapi iPhone 8 belum mampu memikat konsumen baru. Walaupun “baju”nya mengalami sedikit perubahan agar lebih premium (dari Aluminum ke kaca), tetap saja tampilannya masih serupa dengan iPhone 6/Plus yang diluncurkan tahun 2014 lalu.

Sebenernya, kalo mau bagus jualannya mending iPhone X ini yang jadi iPhone 8, cuman memang keliatannya untuk bikin iPhone X ini banyak banget permasalahannya, mulai dari layar AMOLED, sampe komponen FaceID yang konon sulit diproduksi. Semoga penjualan iPhone X besok bisa lebih bagus dari iPhone 8 ini ya.

Jadi, kalian mau beli iPhone yang mana?

 

Regards,
Taufiq

[SOURCE]