[REVIEW] Xiaomi Powerbank 2 10.000mAh : Quick Charge 2 Arah

Hello,

battery2-02b.jpg

Smartphone menjadi barang primer yang kita bawa sehari hari, kegunaannya belakangan menjadi tak tergantikan. Bahkan bisa saja kita lebih sedih ga bawa smartphone daripada ga bawa dompet, karna fungsi dompet sendiri bisa digantikan smartphone. Sayangnya, nyawa smartphone saat ini bergantung kepada batere. Sehingga, apabila batere abis maka smartphone kita ga bisa digunakan.

Sampai sekarang, perkembangan batere smartphone belum terlalu signifikan. Pabrikan smartphone belum bisa memproduksi batere dengan kapasitas besar namun hemat tempat. Pilihannya agak sulit, ingin membuat smartphone dengan desain menarik, maka komponen utama yang paling mudah dikorbankan adalah batere. Sebaliknya, apabila menginginkan daya tahan yang besar, makan harus menambahkan kapasitas batere yang berarti ketebalan smartphone mesti dikorbankan.

P1030829

Hal inilah yang membuat powerbank hadir, apalagi kebanyakan pengguna smartphone adalah orang yang mobile. Orang yang tidak ingin kehilangan moment apapun ketika mereka sedang menjalani kegiatannya. Powerbank sendiri awalnya adalah batere silinder berukuran besar (lebih besar dari AA namun lebih kecil dari batere D) yang diberikan casing dan circuit board. Prinsip kerjanya sangat sederhana, memindahkan listrik dari rumah ke dalam batere yang ada didalamnya, lalu listrik tersebut disalurkan kembali ke smartphone kita.

Masalahnya, ukuran powerbank biasanya lebih besar daripada ukuran smartphone nya, bisa 2 hingga 3 kali lipat. Maka dapat dibayangkan waktu untuk mengisi powerbank tersebut. Pengalaman gw, dulu ketika punya powerbank ukuran 5100mAh, waktu yang diperlukan untuk mengisi powerbank tersebut hampir 6 jam. Asumsinya setiap 1000mAh memerlukan waktu 1 jam pengisian menggunakan charger dengan output 1A. Jadi sewaktu kita akan tidur, biasanya kita akan mengisi batere smartphone dan batere powerbank kita, karena apabila kita lupa mengisi, tidak akan cukup waktu di pagi hari untuk mengisinya sampai penuh.

Belakangan teknologi batere smartphone berkembang, tapi disisi pengisian. Yang tadinya menggunakan arus 1A, berkembang menjadi 2A yang membuat pengisian batere menjadi lebih cepat. Ditambah lagi, ada teknologi quick charge yang bisa mempercepat pengisian batere dengan menaikkan tegangan listik pada saat pengisian. Dimana umumnya tegangan yang digunakan adalah 5V, makan pada teknologi quick charge bisa mencapai 9V, bahkan yang terbaru bisa 15V.

Xiaomi Powerbank 2 10.000mAh

P1030823

Kebanyakan smartphone terbaru sudah menggunakan teknologi quick charge ini, walaupun dengan berbagai macam nama seperti Fast Charge di Samsung, VOOC charge di Oppo, Dash Charge di Oneplus, atau yang paling populer Qualcomm Quick Charge. Apapun istilahnya, smartphone dengan teknologi seperti ini bisa menerima voltasi dan arus yang lebih tinggi dibandingkan biasanya. Untuk quick charge sendiri, selain smartphone yang mendukung, chargingnya juga harus bisa mendukung dan compatible dengan teknologi yang digunakan.

Jadi, apabila adaptor kita hanya bisa mengeluarkan output 1A sementara smartphone kita bisa menerima 2A, maka arus yang masuk hanya 1A. Begitu juga sebaliknya, apabila adaptor kita bisa mengeluarkan output 2A namun smartphone kita hanya bisa menerima 1A, makan arus yang masuk hanya 1A. Disinilah pentingnya mengetahui berapa arus yang bisa diterima smartphone kita, dan berapa arus yang bisa dikeluarkan dari adaptor dan powerbank kita.

P1030828

Powerbank dengan output fast charging sangat diperlukan untuk bisa memberikan output yang besar ke dalam smartphone sehingga waktu charging menjadi lebih singkat. Namun biasanya, powerbank hanya bisa menerima input 1A. Disinilah keunggulan dari Xiaomi Powerbank 2 ini, dimana ia bisa mengeluarkan output hingga 2.4A dan menerima arus yang diterima maksimum 2A, tegangan yang dapat didukung sendiri hingga 12V baik input maupun output. Tegangan dan arus ini tentu bervariasi bergantung pada kebutuhan powerbank itu.

Seperti kita tahu, batere pada umumnya (di smartphone maupun powerbank) membutuhkan tegangan dan arus yang kuat di awal pengisian. Nantinya setelah mencapai 80-90%, keduanya akan menurun secara signifikan, ini yang dinamakan trickle charge. Kadang waktu charging yang diperlukan saat trickle charge sama dengan pada saat mengisi dari 0% – 80%.

P1030831

Di specnya, Xiaomi memberikan rujukan, apabila mengisi dengan adaptor 5V dan 2A, maka waktu yang diperlukan sekitar 6 jam. Namun apabila diisi menggunakan adaptor 9V dan 2A, maka waktu yang diperlukan untuk mengisi turun menjadi sekitar 4 jam.

IMG_5615
Input 8.8V dan 2A

Sementara untuk sisi output, powerbank ini mampu mengisi batere Galaxy S8 (3000mAh) dalam waktu 1,5 jam. Sama dengan waktu yang diperlukan apabila kita menggunakan wall charger yang diberikan oleh Samsung.

IMG_5614
Output 8.9V dan 0.8A

Selain kemampuan untuk menerima input dan output dengan cepat, Powerbank Xiaomi ini juga dapat diset low power charging yang biasa digunakan untuk mengisi fitness band ataupun bluetooth headset. Namun yang cukup disayangkan adalah, hanya ada 1 port USB di powerbank ini. Padahal dengan batere 10.000mAh, seharusnya powerbank ini dapat mengisi 2 gadget sekaligus apabila diberikan tambahan port USB. Untuk pengisian, powerbank ini masih menggunakan port micro USB, belum USB Type C.

Dengan kisaran harga Rp 200rb an, maka powerbank ini bisa dijadikan pilihan utama apabila kalian berpikiran untuk membeli powerbank. Mengingat performa yang dihasilkan melebihi ekspektasi sebelumnya. Jadi, apabila kalian berencana untuk membeli powerbank dengan harga yang cukup terjangkau, tidak ada salahnya untuk memasukkan powerbank ini ke dalam list. Karena dengan fitur yang serupa, merk lain biasanya menjual dengan harga 2 atau 3 kali lipat.

Semoga bermanfaat

Regards,
Taufiq

Advertisements

[REVIEW] IndiHome Fiber : Harganya Mulai Bersaing dengan Tetangga

Hello,

header-indihome-telkom

Pengalaman gw, anak generasi 90an, untuk langganan internet dimulai dari dial up telkomnet instan yang sejamnya hampir Rp 10rb dan kecepatannya 56kbps. Setelah itu di tahun 2000an pindah ke teknologi ADSL dengan kecepatan 384kbps, waktu itu biayanya sekitar Rp 200rb per bulan tapi pake kuota entah berapa GB sebulan. Sekitar taun 2007 pesaing muncul bernama Fastnet, waktu itu langsung keluar paket unlimited 384kbps dengan biaya langganan Rp 99rb per bulan. Cuman memang kekurangannya Fastnet itu jaringannya masih terbatas banget.

Tapi emang perusahaan grup Lippo ini serius banget mau nyebarin internet unlimited terjangkau ke perumahan, maka di tahun 2010 (seinget gw) masuk deh fastnet ke rumah gw dulu di Depok. Gw langganan paket paling murah kayaknya, yang penting internet udah unlimited dan dapet tv kabel juga, sebelumnya pake Speedy gw langganan tv kabel pake Indovision. Dan emang Firstmedia ini tiap tahun naik harga, jadi mau ga mau tiap tahun juga kita mesti minta harga promo ke Customer Service atau ancem putus, biar harganya ga naik. Sampe tahun 2014 ada provider baru namanya Innovate (sekarang MyRepublic), yang sempet gw bikin reviewnya disini.

in1

Habis nikah, gw pindah ke Jatibening, satu hal yang bikin gw sedih ninggalin rumah orangtua adalah akses internetnya, disini pilihannya cuman Firstmedia atau Indihome. Dan kayaknya waktu itu Indihome nya belum fiber, jadi selain mahal internetnya juga lelet, jadi 2 tahun lalu gw pindah kesini langsung pasang FM, enaknya FM juga ga perlu punya no telpon rumah untuk pemasangan.

Trus sekarang kenapa pindah ke Indihome Fiber?

  • Harganya mulai bersaing

Langsung aja kita bahas dari alasan pertama ya, harganya mulai bersaing. Di awal kemunculan Indihome Fiber ini seinget gw mereka cukup mahal, untuk paket 10mbps biaya perbulannya 500rb lebih (dibanding Fastnet sekitar 350rb). Entah apa alasannya, tapi salah satunya karena komponen paketnya juga mendapatkan kuota telpon rumah gratis selain UseeTV dan paket internetnya.

Kalo kita liat dari webnya masing masing, paket Firstmedia (FM) paling murah saat ini adalah D’lite, sementara untuk Indihome paling murah adalah Netizen 2P. Karena FM tidak punya layanan telepon, maka yang bisa dibandingkan adalah paket 2P ini, Internet dan TV kabel. berikut perbandingannya.

compare

Note:

  • Paket Family hanya berlaku di area tertentu
  • Speed upgrade Firstmedia berlaku 6 bulan
  • Harga promo berlaku untuk 1 tahun (setelah itu telpon CS ancem putus biar dapat harga sama lagi)
  • Pake Netizen 1P 10 adalah internet only, tanpa TV kabel. Daftar hanya bisa melalui Plaza Telkom

Diliat dari tabel perbandingan diatas, harga IndiHome sangat bersaing, bahkan kalo tidak promo (diskon dan speed upgrade) harga Firstmedia lebih mahal. Selain itu terdapat perbedaan dari jumlah channel TV kabel dimana disini Firstmedia lebih unggul. Jadi memang kalo dirumah masih ada keluarga yang hobi nonton siaran TV (generasi zaman Now biasanya cukup youtube sama aplikasi nonton macam Netflix, Hooq, Viu, dsb) ya memang sebaiknya pilih Firstmedia. Tapi kalo pengen nonton bola di BEIN, sayangnya kalian mesti pilih IndiHome karena Firstmedia ga menjual siaran BEIN sama sekali, even dengan tambahan biaya.

  • Teknologi lebih canggih dari Firstmedia

IndiHome fiber sudah memakai teknologi FTTH, Fiber To The Home. Jadi sambungan kabel dari pusat bandwith (di kantor Telkom sana) sampai ke rumah kita pakenya kabel Fiber optik, canggih. FM secara umum masih menggunakan teknologi HFC, Hybrid Fiber Coaxial, dimana kabel yang keluar dari pusat bandwith menggunakan kabel Fiber, namun kabel yang ditarik ke rumah adalah kabel Coaxial (seperti kabel antena TV). Kelemahan yang paling kita rasain adalah upload speed dari HFC lebih rendah dibandingkan FTTH. Upload speed ini penting, apalagi kalo internet rumah kita banyak yang pakai, atau waktu kita mau backup data di cloud. terlebih buat youtuber yang mau upload videonya.

Video penjelasan Fiber vs Copper

Untuk TV kabelnya sendiri gw ga bisa banyak komen karna ga pake, tapi yang gw tau UseeTV itu bisa merekam tayangan yang udah kita lewatin, itu aja sih setau gw. Karena kalo di compare channel sih udah pasti menang FM, udah gitu FM sendiri sekarang udah mulai trial channel berdefinisi super tinggi 4K.

Dua hal diatas yang saat ini menjadi pertimbangan gw untuk coba IndiHome lagi. Dan lumayan hoki, pas kemaren pasang gw ga langsung webnya atau via app, tapi gw cari sales di OLX dan ketemu, follow up nya cepet banget. Hari rabu nanya nanya dan kasih data, tadinya kamis siang mau dipasang, tapi karna ga ada orang di rumah jadinya dipasang sabtu pagi dan langsung nyala. Teknisinya sendiri bilang sih ini lagi cepet tumben, biasanya kadang dari pusatnya agak lama untuk aktivasinya. Selain itu gw juga salut teknisinya dateng sendiri naik motor dan tangga lipet, canggih kerjanya sendirian, dan emang gw liat modalnya nyali aja sih.

Tiap customer dapet kabel fiber sepanjang 100m, dan ini akan langsung ditarik kedalam rumah, kebetulan tiang telkomnya di seberang rumah jadi dia gampang pasangnya. Dan kerjanya cepet, kayaknya ga sampe sejam sih, dia masang dan naik ke genteng 30 menit, sisanya sekitar 20 menitan nunggu aktivasi. Trus dia pulang, gw sediain gorengan dia bilang baru abis sarapan, gw mau kasih duit dia bilang ga usah. Jadi emang kita ga bayar sama sekali. Oia untuk biaya pemasangan sendiri sekitar Rp 150rb untuk paket 2P dan paket premium Rp 75rb.

Karena baru sehari pake, jadi belum keliatan nih problemnya, dan FM masih dipasang di rumah gw jadi masih mixed lah internetnya. Kebanyakan gadget di rumah gw masih connect ke wifi yang lama, karena gw males juga untuk registrasinya, nanti aja kalo udah dicabut FM nya.

Hasil Speedtest FM vs Indihome

Firstmedia paket Dlite 10Mbps

IndiHome paket Netizen 2P 10Mbps

Oia, salah satu yang perlu diperhatikan kalo Indihome ini meskipun unlimited tapi dia punya FUP (Fair Usage Policy) atau kuota. Tujuannya emang untuk membatasi orang supaya ga kebanyakan makenya. Untuk paket termurah sendiri FUP nya 300GB sebulan (setara dengan 1000 film), setelah itu kecepatan internet akan turun 25% (misal dari 10mbps ke 7,5mbps).

FUP

Gw sendiri berdasarkan pengalaman seminggu biasanya pake 20GB, jadi kalo sebulan ya sekitar 80 – 100GB, cukup lah dengan FUP segini. Sementara kalo FM beda lagi, dia ga ada FUP tapi lebih ke speed throttling, jadi kalo kita lagi download file nanti dia akan turun speednya selama beberapa saat trus balik ke normal lagi.

Sekian aja dari gw, semoga bermanfaat dan ga bingung ya, adios.

Regards,

Taufiq

 

[REVIEW] XL Prioritas Bundling Smartphone

Hi all,

Kali ini gw mau review mengenai program dari salah satu operator yaitu XL. Oia, ini bukan promo dan gw ga dibayar untuk nulis ini, cuman sekedar share siapa tau bisa bermanfaat.

XL Prioritas

xl-prioritas-main

Kayaknya sekitar setahun yang lalu XL merubah nama pascabayarnya menjadi XL Prioritas. Kalo diliat dari fiturnya, sepertinya ini merupakan sebuah jawaban dari semua orang yang berlangganan nomor pascabayar dan ingin diperlakukan lebih. Karena selama ini semua promosi, paket harga murah maupun internet murah kebanyakan hanya menyasar kepada nomor prabayar. Nah, di XL Prioritas ini konon XL ingin memberikan tawaran lebih kepada pelanggan pascabayar. Walaupun, kalo diliat detail, sebenernya sih fiturnya ga jauh beda sama operator lain.

Continue reading [REVIEW] XL Prioritas Bundling Smartphone

[REVIEW] Asus Padfone S : Two is Better than One (Part 3-end)

Ini merupakan post lanjutan dari Part 1 dan Part 2

Kamera

Dengan resolusi 13MP ditambah dengan software Pixelmaster, gambar dan video yang dihasilkan Padfone S cukup baik. Selain itu, fitur yang ada pada kamera seperti slow motion, HDR, Time Rewind, Panorama, dan sebagainya, membuat kita bisa berkreasi dengan fitur yang ada. Selain itu, video dengan resolusi 4K (3840x2160p) cukup berguna untuk yang mau mencoba perekaman video dengan resolusi tinggi. Namun ada baiknya apabila mau merekam dengan resolusi tinggi disarankan untuk menggunakan tripod agar lebih stabil. Sebenarnya Padfone S juga mempunyai fitur Image Stabilization, namun fitur tersebut baru bisa diaktifkan apabila kita menggunakan resolusi HD (1280x720p).

Continue reading [REVIEW] Asus Padfone S : Two is Better than One (Part 3-end)

[REVIEW] Asus Padfone S : Two is Better than One (Part 1)

Menurut data IDC (International Data Corporation) hingga Q3 tahun 2014 lalu smartphone Android menguasai hingga 84% market share dunia, diikuti iOS 11,7%. Data ini menunjukkan tingginya minat konsumen pada smartphone dengan sistem operasi Android. Namun sayangnya, smartphone Android dengan performance yang baik biasanya berharga mahal. Karena spesifikasi yang dibutuhkan cukup tinggi. Namun setahun belakangan ini keadaannya mulai berubah. Saat ini banyak smartphone Android dengan spesifikasi namun harga yang terjangkau. Spesifikasi tinggi yang dimaksud adalah prosesor 4 inti, internal RAM 2GB, layar Full HD, konektivitas 4G LTE, umumnya smartphone dengan spesifikasi tersebut berharga lebih dari Rp 5jt.Xiaomi memperkenalkan seri Mi3 dengan harga yang cukup terjangkau, selain itu, sebuah produsen asal China bermerk OnePlus pun meluncurkan seri OnePlus One. Kedua smartphone tersebut mempunyai spesifikasi tinggi, seperti yang disebutkan, namun berharga kurang dari Rp 5jt, bahkan untuk seri termurahnya hanya Rp 3jt an. Spesifikasi tinggi pada sistem operasi tinggi mutlak diperlukan apabila pengguna ingin mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dalam menggunakan smartphone nya.
Continue reading [REVIEW] Asus Padfone S : Two is Better than One (Part 1)

[REVIEW] Apple iPhone 6 : A Week with iPhone Six (part 2)

Posting ini merupakan lanjutan dari bagian part 1

Performance

P1030824

iPhone 6 terasa lebih gegas. Dari berbagai benchmark yang dilakukan, iPhone 6 selalu berada di peringkat 5 teratas Hal ini membuktikan sinergi antara software dan hardware yang tinggi. Dalam penggunaan sehari hari, kita akan merasakan perbedaan yang cukup signifikan. Untuk penggunaan kamera pun start up lebih cepat, dalam pengambilan gambar juga terasa tanpa jeda. Di bagian layar, iPhone 6 terasa lebih cerah dan jelas dalam menampilkan gambar dan warna. Ini mungkin yang dimaksud dengan teknologi Retina HD yang dikembangkan oleh Apple.

Continue reading [REVIEW] Apple iPhone 6 : A Week with iPhone Six (part 2)

[REVIEW] Apple iPhone 6 : A Week with iPhone Six (part 1)

Halo

Sepeninggal Steve Jobs, banyak orang beranggapan adalah akhir dari Apple. Nyatanya tidak, hampir di setiap peluncuran produk Apple menimbulkan antrian. Paling tidak , apapun produk yang mereka keluarkan akan menjadi trendsetter. iPhone merupakan trendsetter smartphone dengan layar touchscreen yang mudah digunakan. Walaupun banyak cibiran mengenai ukuran layar, spesifikasi, ataupun sistem operasi yang tertutup, iPhone merupakan sebuah icon dari smartphone masa kini. Tak terkecuali dengan seri iPhone terbaru yang pada September 2014 lalu di perkenalkan, iPhone 6 dan iPhone 6 Plus.

P1030816

Kali ini kita akan membahas salah satu dari dua iPhone tebaru yaitu iPhone 6.

Continue reading [REVIEW] Apple iPhone 6 : A Week with iPhone Six (part 1)