[REVIEW] Xiaomi Mi Band : Simple Fitness Band

Halo

Salah satu wearable gadgets yang belakangan makin marak selain smartwatch adalah fitness band. Gadget ini biasanya berupa gelang yang dipakai di tangan dan mampu mendeteksi setiap aktivitas yang kita lakukan. Menghitung langkah, naik turun tangga, jarak lari, nyenyaknya tidur, dan sebagainya. Masing masing fitness mempunyai kekurangan dan kelebihannya, baik dari segi disain, fungsi, maupun kemampuannya.

Xiaomi sebagai salah satu produsen perangkat elektronik ikut memasarkan fitness band buatannya yang disebut Mi Band. Mi Band merupakan gelang yang mampu mendeteksi dan merekam gerakan kita. Gelang ini cukup menarik baik dari segi harga, fungsi maupun penampilan.

Desain

Desain Mi Band sangat simple, gelang ini terdiri perangkat Mi Band dan gelang yang dapat diganti dengan bermacam warna. Walaupun hanya tersedia satu ukuran gelang, namun rasanya dapat mengakomodir sebagian besar ukuran pergelangan tangan yang ada. Dalam paket penjualan standarnya, gelang yang diberikan berwarna hitam, selain itu kita juga mendapatkan kable koneksi charger. Xiaomi menjanjikan dalam satu kali charge, Mi Band dapat bertahan hingga 30 hari. Walaupun akan di charge dalam jangka waktu yang lama, jangan sampai kita kehilangan kabel charger yang diberikan. Karena koneksi ke Mi Band menggunakan koneksi khusus.

P_20150125_165640

Dengan berat hanya dibawah 10gr, setelah memakainya, kita tidak akan merasakan menggunakan apapun pada pergelangan tangan kita. Selain itu, material Mi Band yang terbuat dari thermoplastic elastomer, diklaim aman digunakan pada jenis kulit apapun. Jangan khawatir apabila kita harus menggunakan sehari hari, karena Mi Band sudah bersertifikasi IP67 yang artinya tahan terhadap air dan benturan. Jadi apabila kita kehujanan ataupun berenang, Mi Band masih bisa dipergunakan. Terdapat 3 buah LED di dalam inti Mi Band yang bisa memberikan notifikasi dalam berbagai warna.

Kompabilitas.

Mi Band dapat digunakan pada sistem operasi Android dengan versi 4.3 keatas dan iOS 7.0 keatas. Untuk melakukan sinkronisasi dengan smartphone, Mi Band menggunakan koneksi Bluetooth Low Energy V 4.0. Jadi, smartphone yang digunakan pun harus mempunyai bluetooth versi ini apabila ingin menggunakan Mi Band. Apabila kita menggunakan smartphone Xiaomi, maka Mi Band dapat digunakan untuk unlock layar tanpa harus memasukkan password.

www.xiaomishop.com_1406352788

Software dan Fitur

Di dalam smartphone, Mi Band menggunakan aplikasi bernama Mi Fit yang bisa di download secara gratis di Play Store maupun App Store. Fungsi utama dari aplikasi ini adalah menghitung langkah yang kita lakukan setiap harinya dan mendeteksi kualitas tidur kita. Secara umum, deteksi langkah yang dilakukan Mi Band cukup akurat. Namun sayangnya terkadang apabila tangan kita bergerak seolah berjalan, perangkat ini mengitung gerakan tersebut sebagai langkah. Ya, setelah digunakan bisa kita ketahui bahwa Mi Band menghitung langkah kaki kita dari gerakan tangan. Setiap harinya, kita akan menentukan target langkah yang ingin dicapai, rekomendasinya adalah 8000 langkah per hari. Apabila sudah tercapai, maka Mi Band akan bergetar dan ketiga lampu LED akan menyala.

This slideshow requires JavaScript.

Untuk kualitas tidur, perangkat ini juga akurat, dan fitur ini langsung bekerja ketika kita berbaring di tempat tidur. Artinya, kita tidak perlu melakukan aktivitas khusus seperti menyalakan mode tidur untuk mengaktifkan fitur ini. Deteksi yang dilakukan Mi Band yaitu lamanya kita tidur dan lelapnya kita tidur (Deep Sleep). Fitur lainnya, Mi Band juga bisa memberikan notifikasi jika kita menerima telpon apabila sedang terhubung. Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan fitur alarm dalam Mi Band ini, pada waktu yang telah diatur sebelumnya, Mi Band akan bergetar untuk membangunkan kita. Mi Fit juga dapat melakukan sinkronisasi dengan aplikasi bawaan seperti Health pada iOS.

Photo 06-02-2015 21 56 42

Kesimpulan

Mi Band merupakan fitness band yang sangat simpel namun mempunyai banyak fungsi. Dengan harga resmi sekitar US$ 13, perangkat ini sangat layak untuk dimiliki. Meskipun fitur deteksi aktivitas yang dimiliki sangat banyak, namun cukup untuk kita agar lebih bersemangat untuk bergerak. Walaupun belum resmi diluncurkan di Indonesia, namun kita bisa mendapatkan Mi Band dengan harga Rp 200rb – Rp 350rb di beberapa website e commerce.

xiaomi-mi-bands

Tertarik untuk mencoba?

Regards

Taufiqul

Advertisements

[REVIEW] [APPS] GUVERA

Hello!

Apa itu Guvera?

Developed in response to the mass consumption of illegal music online, Australian born Guvera is much more than a music streaming service. Through our award winning innovation and technology we are transforming the way you experience music and advancing the digital entertainment industry.
You can access millions of tracks from your favourite local and international artists when you want, where you want, how you want, legally.

Guvera merupakan aplikasi streaming musik yang ada di iOS dan Android. Aplikasi ini cukup menarik, kita bisa mendengarkan lagu secara online maupun offline. Gw belum coba cek databasenya sih, so far lagu yang gw pengen ada semua.

Yang menarik lagi, Guvera mempunyai fitur Playlist. Dimana kita bisa ngeliat Playlist yang dibuat oleh semua orang. Kalo kita suka, kita tinggal follow Playlist itu untuk dengerin lagi nantinya.

Oke, mari kita coba mulai, gimana caranya menggunakan aplikasi ini.

Get Started

Daftar

Untuk mendaftar bisa dengan melalui website Guvera.com ataupun melalui aplikasi Guvera yang bisa di download di iOS maupun Android. Untuk pertama kali, kita akan mendapatkan Free Trial 14 hari. Selanjutnya, untuk menggunakan layanan ini, kita diharuskan untuk membayar biaya berlangganan yang besarnya mulai dari Rp 20rb. Bisa juga dengan redeem voucher yang kita dapatkan, biasanya saat promo bundling pembelian gadget. 
Setelah daftar, langsung login ke aplikasi di smartphone maupun via Website.
Halaman pertama yang kita temukan adalah Playlist
Disini kita bisa melihat Playlist yang dibuat oleh user Guvera lain. Selain melihat lagu yang ada di dalam Playlist tersebut, kita juga bisa mendengarkan lagu tersebut. Nah, karena ini sistemnya streaming, maka saat awal kita perlu menunggu untuk download lagu tersebut. Tapi jangan sedih, lagu yang udah pernah kita dengerin itu akan ada di handphone kita dan bisa didengarkan secara offline.

Playlist

Itu contoh playlist yang udah gw buat. Kita bisa nambahin lagu dari playlist orang lain maupun dengan mencari lagu di database Guvera. Nantinya Playlist gw ini akan bisa dicari orang lain untuk di Follow. Maksudnya Follow disini adalah, Playlist tersebut bisa kita tambahkan di daftar Playlist kita sendiri. Kita bisa bebas namain Playlist kita dan kasih tag, juga bisa rubah gambar backgrond Playlist kita.

Oflline Tracks

Lagu yang sudah kita dengarkan akan tersimpan di memori Smartphone kita. Kita bisa membatasi seberapa besar kapasitas yang kita berikan untuk Guvera menyimpan lagu yang sudah kita download. Lagu ini bisa kita dengarkan secara Offline, jadi ga perlu lagi download ulang. Dan, semua lagu yang udah kita dengerin akan ada di list kita. 

Verdict

Aplikasi ini sangat menarik. Apalagi untuk orang orang yang ingin mendengarkan lagu terbaru, database Guvera akan selalu update. Selain itu, fitur Playlist juga membantu kita dengan mudah memilih lagu yang kita inginkan. Kalopun malas membuat playlist, kita bisa langsung Follow Playlist yang udah ada.
Biaya berlangganan mulai dari Rp 20rb per minggu sampai dengan Rp 500rb an per tahun menurut gw cukup sebanding dari yang kita dapatkan. 
Barusan gw coba untuk dengerin lagu di 3 devices yang bersamaan dan bisa. Padahal seinget gw di FAQ sih dalam satu waktu hanya 1 device yang bisa melakukan streaming lagu. Apa karena lagunya sudah di dwonload ya. Kalo emang beneran bisa, biaya langganannya jadi berasa murah. Nih gw kasih screenshot FAQ nya.

There is no limit to the amount of devices you can use Guvera on, however only one device can be used at any given time stream music.

Coba diitung, dengan uang Rp 500rb, kita bisa stay update lagu terbaru selama setahun. Bisa didengerin di beberapa device yang berbeda, bahkan saat yang bersamaan. Menurut gw sih ini cukup menarik ya. Dibandingkan dengan membeli CD ataupun melalui iTunes. Lagu nya juga bisa didenger Offline. Cuman memang masalah kualitas, Guvera ini menggunakan file AAC dengan kompresi 64kbps di iOS app dan 96kbps untuk di Android app. Buat yang punya telinga emas sih ya gw saranin ga usah daripada kecewa. Suaranya ga sebagus itu, tapi ga jelek banget juga kok.

Oia, karena Guvera memberikan Free Trial 14 hari, jadi gw sangat amat menyarankan kalian untuk mencoba aplikasi ini. Nyobanya gini, Download aplikasi dan daftar, terus dengerin aja lagu lagu yang kita seneng di tempat yang unlimited kuota, abis itu, kalo semua lagu kita udah didengerin, ya enak bisa dibawa kemana aja kan lagunya. Kalo untuk yang di mobil, bisa langsung pake kabel AUX ataupun melalui koneksi Bluetooth untuk dengerin lagunya.

Selamat mencoba

Regards
Taufiq

@topiqfurqan

[REVIEW] TRANSCEND JETFLASH 380S

Hello!

USB On-The-Go

Wah? apaan tuh USB On-The-Go (OTG)? 
Coba kita liat definisi dari Wikipedia:

USB On-The-Go, often abbreviated USB OTG or just OTG, is a specification first used in late 2001, that allows USB devices such as digital audio players or mobile phones to act as a host, allowing other USB devices like a USB flash drivedigital cameramouse, or keyboard to be attached to them.

 Nah, USB OTG merupakan sebuah USB device yang memungkinkan beberapa alat seperti audio players atau smartphone mengakses peralatan USB seperti flash disik, kamera digital, mouse ataupun keyboard. Intinya sih, dengan USB OTG ini kita bisa akses peralatan USB ke perangkat Android kita.

Sekarang ini, teknologi USB OTG sudah berkembang. dalam satu unit devices, diberikan 2 port, yaitu port USB standar dan port MicroUSB. Port USB standar digunakan untuk peralatan seperti komputer atau laptop, sementara port MicroUSB digunakan untuk penghubung ke smartphone.

JETFLASH 380s

Kalo diliat dari keterangannya, alat ini disebut sebagai USB OTG Flash Drive. Karena mempunyai 2 port koneksi yaitu USB dan MicroUSB. 
USB OTG ini memiliki beberapa kegunaan, yang utama adalah kita bisa dengan mudah transfer file dari komputer ke smartphone. Selain itu, kita juga bisa mendapatkan tambahan kapasitas penyimpanan untuk smartphone kita. Lebih berguna lagi apabila smartphone kita tidak mempunya slot MicroSD. 
Berikut gambar gambarnya.

Ukurannya yang sangat kecil membuat USB OTG ini sangat mudah untuk disimpan dan dibawa bawa. Ketika dihubungkan dengan smartphone pun tidak memakan tempat.

Transcend memberikan  gratis aplikasi bernama Transcend Elite. Aplikasi ini berguna untuk membuka file yang ada di USB OTG tersebut. Selain itu, di aplikasi ini kita juga bisa melakukan Backup dan Restore data data kita yang ada di smartphone.

So far, USB OTG ini sangat berguna buat gw. Sangat mudah untuk melakukan transfer file dari PC ke Smartphone.
Oia, beberapa produsen juga memiliki produk serupa, kecepatan baca tulis pun rata rata sama, produk ini merupakan satu contoh saja.
Semoga bermanfaat.
Regards
Taufiq

[REVIEW] GOOGLE CHROMECAST: Two Thumbs Up!

Hello!

Apa itu Chromecast?

Chromecast merupakan device yang dikeluarkan oleh Google. Fungsinya sendiri, menurut Google adalah sebagai berikut:

Chromecast is a thumb-sized media streaming device that plugs into the HDMI port on your TV. Set it up with a simple mobile app, then send your favorite online shows, movies, music and more to your TV using your smartphone, tablet or laptop.

Singkatnya, Chromecast adalah sebuah alat yang fungsinya untuk melakukan streaming content dari Internet ke Televisi melalui port HDMI. Cara penggunaannya sangat mudah, cukup dengan menggunakan aplikasi yang ada di smartphone atau tablet atau laptop, maka kita dapat dengan mudah menyaksikan tayang online favorit di televisi. 
Masih bingung ga? Coba diliat bagan berikut: 
Klik untuk memperbesar
Content yang ada di devices (smartphone, tablet, laptop) akan dikirim ke Chromecast, setelah itu Chromecast akan menayangkan content yang dipilih tersebut. Jadi, misalnya kita lagi nonton streaming video di Youtube, kita pengen tonton video tersebut di TV, nanti ada pilihannya di kanan atas aplikasi Youtube untuk pilhan streaming ke Chromecast. 
Oia, medium yang digunakan antara devices dan Chromecast menggunakan WiFi, jadi devices kita dan chromecast mesti ada di router yang sama. Dan, Chromecast akan berguna lebih maksimal apabila kita berlangganan internet kecepatan tinggi. 
Cerita dikit, udah lama sebenernya gw kepingin beli Chromecast, cuman harganya masih gak lazim. Google sendiri menjual Chromecast US$ 35, cuman kalo udah sampe sini, minimal Rp 500rb. Eh, sebuah website e-commerce yang baru berdiri mengadakan promo untuk Chromecast ini, gw dapet harga cukup murah Rp274rb. Cuman ngirimnya lama, ternyata pas dicari tau, penjualnya ada di Korea. Tapi pas tau barangnya nyampe, ya puas!

Packaging

Ga sempet bikin video unboxing, bungkusnya simpel sih, standar produk Amerika. Isinya ada Chromecast kabel HDMI extender, kabel MicroUSB, dan Adaptor. 
Box 
Chromecast

 Ini isinya, paling kiri itu kabel MicroUSB, yang tengah ada kabel HDMI Extender, dan power Supply adaptor. Kabel MicroUSB itu fungsinya untuk memberikan supply daya ke Chromecast, bisa dicolokkan ke port USB yang ada di TV atau kalo memang tidak ada maka bisa menggunakan adaptor yang disertakan.

Kabel HDMI Extender gunanya untuk menambah fleksibilitas dari Chromecast itu. Misalnya TV kita menggunakan Wall Bracket dan port HDMI ada di bagian belakang TV, dengan Extender ini maka Chromecast bisa diarahkan ke bawah sehingga tidak berhimpitan dengan dinding. Bisa juga, port HDMI sudah terlalu rapat dengan kabel HDMI lain, sehingga agar tidak berhimpitan diperlukan HDMI Extender ini.

Ukuran Chromecast, seperti kata Google, ya emang seibu jari. Ga beda jauh sama USB flashdisk yang biasa kita pake. Yang warna kuning itu port HDMI, sementara diujung lainnya ada port MicroUSB. Disamping kiri logo Google ada lampu yang akan menyala apabila Chromecast dinyalakan. 

Installing

Nah, begini instalasi Chromecast di TV.
Langsung aja dicolokkin ke port HDMI yang ada di belakang TV, dan MicroUSB ke port USB. Kalo udah merah gini tandanya dia udah nyala. Setelah itu, kita langsung pilih input HDMI di TV kita. Kalo TV kita ga ada port USB nya, dipake aja adaptor yang ada. 

Setelah kita memilih input HDMI, maka tampilannya akan seperti ini. Chromecast akan meminta kita untuk melakukan set up perangkat. Bisa diliat, alamat web yang harus kita kunjungi adalah google.com/chromecast/setup.

Disini gw menggunakan iPad untuk melakukan setup, setelah mengetik alamat tersebut, maka kita akan diarahkan untuk menuju ke AppStore.

Untuk melakukan instalasi, kita wajib untuk mengunduh aplikasi Chromecast, aplikasi ini ada di AppStore maupun Play Store.

Aplikasi Chromecast akan mengarahkan kita untuk melakukan koneksi WiFi ke Chromecast. Tujuannya untuk melakukan setting Chromecast ke router kita.

Verify Chromecast, untuk memastikan bahwa Chromecast yang kita setting sudah benar, akan muncul kode yang akan disamakan dengan kode yang muncul di device kita.

Langkah selanjutnya, memilih negara, jelas pilih Indonesia.

Setelah itu, kita akan diminta untuk memberikan nama untuk Chromecast kita. Tujuannya agar lebih mudah teridentifikasi apabila ada lebih dari satu Chromecast di rumah.

Setelah dikasih nama, maka kita perlu untuk melakukan setting koneksi Chromecast ke router WiFi yang ada di rumah kita. Apabila ada lebih dari satu router WiFi, maka lebih baik dipilih yang sinyalnya paling kuat atau letaknya paling dekat dengan Chromecast. Oia, Chromecast akan mendeteksi router yang ada disekitarnya, kita pilih dan masukkin password kalo ada.

Kalo udah dipilih router yang dituju, maka Chromecast akan melakukan koneksi ke router tersebut, ditunggu aja.

Begitu terkoneksi, Chromecast akan melakukan update softtware terbaru, kalo kaya Google sih “Your Chromecast deserve the latest” Oke!

Ready to Cast!

Setelah melakukan instalasi, maka kita siap untuk transmisi (Cast). 
Untuk tau aplikasi apa saja yang bisa ditampilkan di Chromecast, silahkan klik disini
Yang paling familiar sama kita sih paling Youtube, karena yang lain rata rata saluran video streaming berbayar di Amerika sana. Ada juga Google Movies, Google Play dan juga VEVO.

Kalo sudah siap, tiap kita masuk ke HDMI nya Chromecast, kita akan menemui halaman ini. Karena Chromecast sudah siap, kita tinggal pilih aplikasi yang mau kita tonton di Chromecast. Kali ini gw contohin Youtube ya.

Ini tampilan aplikasi Youtube di iPad, aplikasi udah mendeteksi ada Chromecast di router kita. Logonya ada di kanan atas di sebelah lambang Search. Nah, kalo kita mau nonton di Chromecast, langsung aja dipilih Chromecast nya.

Setelah kita memilih Chromecast kita, nanti tampilan di TV kita akan berubah. Ini menunjukkan aplikasi yang sedang terhubung dengan Chromecast, jadi saatnya memilih milih video yang mau ditonton.

Biar gampang, gw tonton video Tulus pas di program Music Everywhere nya Net TV. Jadi pilih playlist, nanti tinggal pencet play, maka Video tersebut akan dimainkan di TV kita.

Nah video ini bukan di download dari hape kita, melainkan langsung dari Internet, karena Chromecast sendiri kan udah terhubung ke router kita. Jadi, setelah kita pilih video, kita bisa keluar aplikasi dan melakukan aktivitas lain. Tapi video ga kan mati, karena playlist sudah tersimpa di Chromecast.

Selain cara diatas, bisa juga lebih gampang. Misalnya kita lagi nonton video nih di iPhone, trus kita mau pindah ke layar yang lebih gede, nah di layar Video itu akan ada pilihan Chromecast, tinggal pilih, dan Voila, video kita muncul di TV.

Cast darimana lagi?

Kalo aplikasi yang online, paling cuman Youtube ama VEVO yang bisa kita pakai sekarang ini. Nah, pasti kita bosen donk, tenang dulu masih ada lagi kok.

Browser casting

Kalo kita pake Google Chrome, kita bisa menampilkan browser kita ke TV. Seru nih, jadi misalnya mau liatin sesuatu ke banyak orang, kita tinggal hubungin aja browser kita ke Chromecast. 
Kita cukup install add on di browser Chrome kita, nanti akan ada tampilan yang sama di kanan atas untuk melakukan Cast. Setelah itu, tampilan di komputer kita akan terlihat di layar TV kita.

Ini tampilan di TV kita. Sayangnya hanya satu tab yang bisa kita Cast. Kalo misalnya kita pindah tab, maka kita harus memilih Cast this Tab. Oia, ada jeda sedikit antara tampilan di komputer kita dengan yang ada di TV, ya karena dia kan sebenernya download apa yang ada di layar kita. Mungkin sepersekian detik aja sih. Kalo mau nonton video juga bisa kok.

Video Cast from Android

Ini cukup menarik, misalnya kita punya smartphone Android, kita bisa melakukan streaming dari devices kita ke Chromecast. Untuk contoh aplikasinya, kali ini gw pilih LocalCast, bisa di download gratis di Play Store.

Di aplikasi ini, caranya tetep sama dengan yang lain, kita memilih Chromecast yang dituju terlebih dahulu. Setelah itu kita memilih file apa yang akan kita tampilkan di Chromecast. Yang paling enak sih Video lah, jadi kalo punya Video bagus di hape kita bisa ditonton rame rame sama yang lain tanpa perlu pindah pindahin file. Cukup konek ke Chromecast dan Voila! kita bisa tonton bareng di layar yang lebih besar.

Kalo udah pilih video yang akan ditonton, nantinya device kita akan berubah sebagai remote control, kita bisa mempercepat, atau mengganti video melalui devices kita. 

The Good News

+ Simple
+ Cukup sekali pasang
+ Bisa streaming media yang ada di smartphone, tablet, maupun laptop

The Bad News

– Aplikasi yang dapat digunakan masih sedikit

Closing

Chromecast pada intinya berguna untuk merubah TV yang tadinya biasa biasa saja, mungkin hanya siaran dari antena PF Goceng ataupun langganan TV berbayar, menjadi TV Pintar. Pintar karena TV ini bisa menampilkan berbagai macam tayangan yang ada di dunia. Mulai dari yang ada di dalam aplikasi seperti Youtube ataupun Vevo, segala macam video yang ada di komputer kita, bahkan yang ada di smartphone atau tablet kita. 
Buat yang TV nya belum pintar, Chromecast sangat layak untuk dibeli. Yang penting, di rumah udah ada router WiFi dengan kecepatan internet lumayan. Untuk yang suka nyimpen file di harddisk komputer, dengan Chromecast kita bisa lebih puas nonton dengan video video kita di layar yang lebih besar dan lebih jernih.
Semoga bermanfaat
Regards
Taufiq

[REVIEW] XIAOMI REDMI: A (Super) Budget Phone

Hello!

Xiaomi apaan sih?

Xiaomi, perusahaan yang berdiri di tahun 2011, saat ini berada di urutan ketiga sebagai produsen smartphone terbesar di Tiongkok, setelah Samsung dan Lenovo. Kalo belum tau, wajar, gw juga baru tau beberapa bulan terakhir kok. Xiaomi sering disebut sebagai “Apple of China”, karena terdapat keunikan dari produk produknya. Walaupun berbasis Android, Xiaomi menggunakan antarmuka MI yang pengoperasiannya sangat mudah.

Kali ini gw berkesempatan untuk mencoba salah satu smartphone dari Xiaomi, Redmi. Smartphone entry level yang menjadi fenomena di setiap penjualannya. Oia, Xiaomi ini menjual secara langsung produknya via website, penjualannya berlangsung setiap minggu. Di Singapore, setiap dibuka penjualan Redmi, dalam waktu kurang dari 1 jam stok yang ada akan habis. Mungkin karena harganya yang cukup murah ya.

Kalo mau tau berita tentang Xiaomi, lebih asik cari cari sendiri ya, cukup menarik kok,

Hardware

klik untuk memperbesar

Redmi menggunakan prosesor Quad Core keluaran Mediatek MT6589T dengan kecepatan maksimum 1,5GHz. Dengan RAM 1GB dan ROM 4GB, serta slot MicroSD yang bisa support hingga 32GB. Kamera belakang beresolusi 8MP dilengkapi dengan LED Flash dan sanggup untuk merekan video Full HD sementara kamera depan beresolusi 1,3MP. Redmi memiliki layar sebesar 4,7″ dengan resolusi 1280×720 pixels, tingkat kerapatannya mencapai 312 ppi. Sebagai perbandingan, Retina Display iPhone mempunyai kerapatan 326ppi, dengan kata lain, ketajaman layar Redmi hampir mirip dengan yang ada di iPhone.

Redmi juga mempunyai dua slot SIM, namun hanya satu yang memiliki kecepatan internet 3G, sementara slot 2 hanya sampai EDGE. Selain itu, hp ini juga mendukung Bluetooth 4.0 Low Emission dan WiFi 802.11n. Di dalamnya, Redmi menggunakan sistem operasi Android 4.2 (Jelly Bean) yang sudah di kustomisasi dengan antarmuka MI.

Desain Redmi bisa dibilang biasa, ga ada yang istimewa. Yang paling kerasa adalah beratnya yang cukup lumayan ketika dipegang dalam waktu lama, 158 gram. Kalo untuk tipis, masih bisa ditolerir, ga terlalu tebal. Cuman memang bezel di sekitar layar terlalu besar, bakalan lebih keren kalo dibikin tipis. Oia, di bagian depan terdapat layar HD 4,7″ IPS Panel yang cukup terang, kalo dibawah cahaya matahari memang perlu di set maksimal tingkat keterangan layarnya. Di bawah layar terdapat 3 buah softkey options, home, dan back. Dibawah tombol Home terdapat LED notification yang bisa diatur setiap aplikasi. Sebagai contoh, ketika battery habis maka LED akan menyala merah, apabila sudah mencapai >50% LED akan berwarna biru, dan ketika penuh akan berubah menjadi warna hijau. Namun sayangnya, karena letak dan ukuran yang terlalu kecil, kadang jadi tidak terlihat.

Di bagian belakang terdapat kamera utama beresolusi 8MP dengan bukaan f2.2 yang sanggup merekam video beresolusi Full HD. Terdapat juga LED Flash yang juga bisa berfungsi sebagai lampu senter apabila diperlukan. Terdapat juga logo Mi di bagian bawah cover belakang Redmi. Cover belakang ini berbahan plastik dengan tekstur yang cukup nyaman untuk dipegang, tidak mudah terjatuh karena terlalu licin. Di bagian kanan terdapat tombol volume up-down dan tombol power. Di bagian atas terdapat headphone jack 3,5mm sementara di bagian bawah kita bisa menemukan microUSB untuk charging dan juga mempunyai fitur USB on-the-go.

Ini foto Redmi dibandingin dengan iPhone 5. Terlihat kalo ukuran Redmi lebih besar.

Software

Redmi mempunyai basis OS Android 4.2 (Jelly Bean), namun antarmuka (User Interface) MI membuat hape ini menjadi berbeda dari hape Android kebanyakan, kebanyakan pake TouchWiz. Satu hal yang berbeda dibanding dengan hape Android lain yaitu tidak terdapatnya App Drawer, yaitu layer untuk masuk ke list aplikasi. Seperti di iOS, semua aplikasi terdapat di halaman depan, apabila kita install aplikasi dari Google Play, maka akan langsung muncul di halaman depan. Untuk uninstall aplikasi, cukup tekan dan tahan aplikasi tersebut lalu ditarik keatas, arahkan ke tempat sampah.
Biar lebih enak, mari kita liat liat.
Lock Screen

Lock Screen

Di halaman Lock Screen, kita bisa tarik ke bawah untuk masuk ke Home Screen, tarik ke kanan untuk langsung ke menu Messaging, ke kiri langung ke menu telpon, dan ke atas untuk menu Camera.

Lock Screen

Nah, kalo kita pencet dua kali di tengah tengah, maka akan langsung berubah tampilan menjadi pemutar musik.

Home Screen

Home Screen

Bisa diliat kalo semua aplikasi ada di halaman utama, jadi ga perlu jauh jauh masuk ke App Drawer seperti di hape Andorid lain.

Folder

Notification Center

Sama seperti hape Android lainnya, terdapat notification center yang bisa ditarik dari atas layar. Satu hal yang membedakan, di barisan bawah terdapat catatan penggunaan kuota internet, lumayan berguna buat yang langganannya pake kuota ya.

Notification Center

Ga jauh beda sama yang lain juga, bisa di custom isinya. Ada fitur Do Not Disturb yang bisa di setting, jadi pada waktu tersebut hape ga akan memunculkan notifikasi apa apa.

Themes

Salah satu fitur dari MI yaitu Themes. Kita bisa download macem macem Themes supaya Redminya jadi keren. Lumayan lucu lucu kok isinya.

Quick Play Music

Ada fitur yang lumayan unik, apabila kita ada di home screen dan ingin memutar lagu, kita tinggal swipe icon Music dari atas ke bawah, maka langsung keluar tampilan pemutar musik.

Quick Note

 Sama seperti di Music, icon Notes pun bisa di swipe dari atas kebawah untuk menampilkan Quick Note, jadi kita ga perlu masuk ke menu, sangat simpel dan ringkas.

Tools

 Beberapa program yang diberikan oleh Xiaomi, disini terdapat MiCloud, Downloads, Updater, Password keeper, Backup, Feedback, dan USIM Utilities. Yang paling menarik tentu MiCloud, akan kita bahas nanti.

Tools

 Terdapat pula beberapa menu seperti senter dan FM radio. Radio sendiri dapat dinyalakan dengan meyolokkan headset, headset berfungsi sebagai penangkap sinyal. Karena sebenernya tanpa headset juga bisa menyala, namun kualitasnya sangat tidak bagus.

MiCloud

 Sebagai pengguna MI, diberikan free 5GB ketika sign in sebagai user. Setelah itu, diberikan 5GB lagi apabila kita login di i.xiaomi.com. Terlihat fitur yang di backup di MiCloud yaitu Contacts, SMS, Album, Call Log, Notes, Recorded, Cloud Messaging dan Find Device.

MiCloud

 Yap, seperti iPhone dan hape mahal lainnya, Xiaomi juga dibekali find device. Jadi apabila hape kita hilang, maka kita bisa melihatnya via internet.

Security

 Kita juga diberikan program bernama Security yang isinya bermacam hal. Cleaner untuk membersihkan file file yang tidak berguna di hape kita. Data Usage sebagai pencatat pemakaian data internet kita, dapat disetting secara manual tiap bulannya. Blockist untuk mencatat nomor yang tidak ingin kita terima telponnya.

Data Counter

 Data Counter terbagi antara SIM 1 dan SIM 2. Masing masing SIM mempunyai catatan pemakaian sendiri.

Power Usage
Selain untuk melihat sisa batere, disini juga kita bisa konfigurasi penggunaan batere kita, ada beberapa proful yang bisa dipilih. Selain itu ada menu Auto Switch dimana hape akan berubah profil otomatis ketika mencapai level tertentu. Atau juga Scheduled untuk menjadwalkan perubahan proful batere.
Profil: Default

Profil: Sleep
Bisa dilihat  perbedaan profil antara Default dan Sleep. Semisal kita menjadwalkan perubahan profil pada jam 12 malam sampe dengan jam 5 pagi dengan 2 mode tersebut. Saat jam 12, hape akan otomatis pindah ke profil Sleep dan saat jam 5 pagi kembali ke profil Default.

Camera

Kamera 8MP yang ada di Redmi konon sensornya adalah Exmor buatan Sony, entah bener atau engga. Yang jelas, dari pengalaman gw menggunakan kamera Redmi, hasil yang didapatkan cukup bagus. Selain itu, kamera ini juga sanggup untuk merekam video Full HD 1080P.
Berikut contoh gambarnya.

Hasil foto dari Redmi bisa dibilang bagus untuk hape sekelasnya. Jangan deh bandingin sama iPhone, udah tau diri aja harganya juga ga seberapa. Tapi ga bisa dianggap jelek juga, karena dari pengalaman gw pake Redmi itu hasil gambarnya ga pernah mengecewakan. Memang kalo diperhatikin warna agak yellowish ya, tapi ini hasil foto apa layar komputer gw ya?
Kemaren sempet iseng ambil video pake Redmi.

Performance

Antutu Benchmark

 Skor Antutu 16rb an, sekelas Galaxy S3. Entah hape apalagi yang ada di level segitu. Yang jelas, dengan spesifikasi yang ada, gw jarang mendapatkan lagi pada saat mengoperasikan hapenya. Pernah sih, tapi ya emang karena lagi banyak banget tasknya.

Gw juga pertamanya bingung ketika liat hasil speedtest ini. Bukannya apa apa, biasanya kalo test pake iPhone, kecepatan upload mentok di 34 an MBps, entah apa penyebabnya pake Redmi bisa mentok gini, padahal Routernya ya sama. 
 
Buat gw, dengan spek seperti ini, performa Redmi bisa dibilang memuaskan. Kalo dibandingkan dengan hape Android dengan themes standard, pasti Redmi masih menang, 

Battery Life

Ini paling penting ya, punya hape bagus ga pernah hang, jarang lag, dan tampilannya menarik daripada Android lain, percuma aja kalo baterenya cepet abis. Sebagai gambaran, pemakaian gw lumayan ekstrem di Redmi ini. 4 account gmail, dimana 2 diantaranya terdaftar mailing list gadget dengan total penerimaan email per hari 1000 an, selain itu ada juga 3 email lain yang ikut di daftarkan. Juga Social Media seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, serta aplikasi chatting BBM, WhatApp, dan Line. Semuanya masuk ke Redmi ini. Pemakaian rata rata yang gw rasakan, dengan 3G only, 1 SIM card, brightness 25%, di kantor kadang dipake denger musik, terima beberapa SMS, hampir ga pernah telpon, sekitar 12 – 14 jam. Bahkan pernah satu kali karena sinyalnya ga bagus, lemot, jadi gw ga maenin selama beberapa jam, tapi email tetep masuk, eh masih bisa bertahan tuh.

Software Update

Beberapa hari yang lalu gw dapet notifikasi update dari Xiaomi.
Notifikasi Update
Update berkisar 150an MB, disitu juga tertulis apa aja yang berubah. Oia, sebelum update kita disuruh Back Up data dulu. 
Hampir semua data yang ada di hape di backup, waktu backup sekitar 15 menit. Setelah itu adalah proses downloading file update, lalu proses instalasi update yang memakan waktu kurang lebih 30 menit. Buat gw ini cukup menarik ya, agak jarang produsen smartphone budget ngasih update ke produknya. Bahkan produsen sekelas LG atau Sony pun belum tentu loh kasih update.
Setelah gw baca baca, ternyata memang Xiaomi ini setiap hari mendapatkan feedback dari penggunanya, karena emang setiap ada masalah pasti user bisa langsung report ke Xiaomi. Dan gw denger, mereka emang tanggap banget untuk masalah ini. Jadinya, kadang setiap penjualan, hape yang dijual minggu ini belum tentu sama dengan yang dijual minggu depan. Nah, canggih  kan. Hape lama bisa tetap ke update sih.

Verdict

the bright side

– Quad Core Processor 1,5GHz MTK5689T
– 1GB RAM, 4GB RAM ~microSD slot up to 32GB
– 4,7″ HD Display (1280×720 pixels) IPS Panel
– WiFI 802.11b/g/n, WiFi Direct
– Corning Gorilla Glass 2
– Value
– MI User Interface (MIUI)

the dark side

– Berat 158 gram
– Bezel terlalu tebal, ukuran terlalu besar
– Masih Jelly Bean (Android 4.2.2)
Menurut gw, ini merupakan hape yang patut untuk dibeli dan dicoba. Untuk orang yang ga mau spend terlalu banyak duit untuk hape Android, Redmi bisa dijadikan pilihan. Selain itu, User Interface MI juga memberikan pengalaman yang berbeda dibanding dengan User Interface Android lain. Kalo ada rencana untuk pindah dari iOS ke MIUI, jangan khawatir, ga bakalan kagok kok make Android. Dengan MIUI, lebih gampang makenya, karena emang dibuat seminimal mungkin.
Beberapa hape setelah dipakai dalam waktu yang lama akan mengalami penurunan performance, sementara Redmi dari pertama beli sampe sekarang masih tetep sama, tetep ngebut dan snappy. Gw yang tadinya beli Redmi sekedar penasaran dan cukup buat di review aja, sekarang malah mikir mikir kalo buat dijual. Hape ini juga cocok untuk yang mau pindah dari BlackBerry ke Android, tapi ya itu, hape ini cukup berat untuk dipegang dalam waktu yang lama. 
Untuk yang mau beli, gw sarankan agar sedikit bersabar, karena konon beberapa saat lagi Xiaomi akan resmi masuk ke Indonesia. Bahkan, di pameran ICS yang digelar minggu ini di JCC, Vice President Xiaomi Global (mantan eksekutif Google) Hugo Barra akan berkunjung, ga tau sih mau ngapain. Gosipnya lagi, Xiaomi disini akan didisitribusikan oleh Erafone dengan firm order hingga 1jt unit. Entah bener atau engga, yang jelas, Xiaomi pasti bakal jadi bahan omongan selama beberapa bulan ke depan. Ga usah lagi kemakan isu kualitas hape buatan Tiongkok itu jelek, jelas jelas iPhone dibaut di Tiongkok.
Xiaomi juga mempunyai model Mi3 dengan spesifikasi jauh lebih tinggi daripada Redmi, harganya pun 2 kali lipat. Tapi Mi3 ini dapat bersaing dengan smartphone papan atas seperti Samsung Galaxy S5, Note 3, HTC One M8, dan sebagainya. Boleh diliat benchmark dibawah ini. 
Benchmark Mi3
Bisa diliat di Antutu, Mi3 ada di bagian hi end Android Smartphone dengan harga setengah dari yang diatasnya. 
Semoga bermanfaat untuk kita semua
Regards,
Taufiq

[REVIEW] LUMIX GM1 : Happy Ending! (Part 3 – end)

Hallo…!!!

Ini bagian yang tertunda dari review Lumix GM1. seharusnya sih mau dikerjain minggu lalu, tapi apa daya, buruh pabrik lagi banyak orderan jadi ya kudu mengalah dulu ceritaannya.
Untuk yang belum baca part 1 silahkan klik disini, untuk part 2 nya disini….

Sebagai pembuka, gw kasih foto tangan lagi megang GM1, buat ngeliatin kalo kamera ini kecil banget tapi kemampuannya gede banget.

Happy Ending!

 

Itulah yang gw rasakan setelah gw menggunakan GM1 ini. Mulai dari ukurannya yang mini, untuk ukuran kamera mirrorless, dan fitrunya yang canggih canggih, yang bahkan belum gw cobain semuanya, sampe modelnya yang super catchy.

Gw pernah ngerasain make kamera dari jaman masih DSLR gede sampe muncul mirrorless sekarang ini. GM1 diluar ekspektasi gw, dari yang awalnya curiga apa iya ini kamera bakalan bagus hasilnya, sampe sekarang jadi takjub dan malah ketagihan pengen eksplor lagi. Jadi, kira kira apa yang bisa disimpulin kelebihan dan kekurangannya ya.

 

Good News!

 

+ Premium Feel Body

   Yang gw rasain ketika megang kamera ini ya seperti itu, meskipun kecil dan bikin orang memandang sebelah mata, tapi kalo udah diperhatiin detail, kamera ini ga terasa murahan. Balutan stainless steel dan corak menyerupai kulit pada body menunjukkan kalo kamera ini emang punya kelas tersendiri, ga sama ama kamera kamera yang lain yang bodinya plastik.

+ Super Mini Size

   Udah ga bisa disebut mini lagi ukurannya, melainkan Super Mini. Jadi kalo dibawa kemana mana ga makan tempat dan nyusahin. Bahkan kemaren gw bawa kamera ini dengan tas iPad. Dan karena lensanya bisa dilepas, jadi ga terlalu tebel pas dimasukkin tas. Lensa bawaan pun didisain untuk bisa memendek ketika ga digunakan. Oia, untuk GM1 ini, lensa bawaannya didisain khusus sesuai dengan disain GM1, jadi seperti kita liat, keren sekali.

+ Interchangeable Lenses

    Nah, pas make kamera ini, orang ga akan nyangka kalo ini adalah sebuah DSLM (Digital Single Lens Mirrorless) dimana lensanya bisa diganti ganti. Sebenernya emang kerenan lensa bawaan sih, tapi kalo kita punya lensa Lumix lain, gada salahnya kan buat dicoba. Oia, di hasil foto GM1 kali ini, gw kebanyakan pake lensa fix 20mm (~40mm) f1.7, dan hasilnya jauh lebih oke daripada pake kamera gw si GF1, ya iyalah ya. Berikut beberapa contoh penggunaan GM1 dengan lensa lain.

Ini lensa bawaan

 

Dipakein lensa gede

Ini modal jalan jalan gw kemaren sama GM1, lensa bawaan ditambah lensa fix.

+ Creative Control

   Ini fitur yang bikin ga bosen pas make kamera ini. Hasil foto bisa kita atur sesuka hati kita. Jadi jangan sedih kalo foto kita gambarnya telalu natural, karena dengan GM1 kita bisa dapetin gambar yang beda dengan kamera lainnya.

Ada cahaya disana, berasa mu dipanggil
Tone nya lebih kenceng ya

Pake One Point Color, warna aslinya merah menyala
One Point Color lagi, biru
dibikin jadul

+ Panasonic Image App

   Sambungkan dengan WiFi, dan voila! kamera ini bisa dikontrol dengan mudah dengan smartphone kita. Dengan aplikasi Image App, kita ga cuman bisa ambil gambar aja, tapi bisa juga mengatur semua option yang ada di kamera ini. Mau nyalain timer, mau rekam video, mau rubah mode ini itu, dan banyak lainnya. Setelah dapet fotonya, kita bisa langsung masukkin foto tersebut ke gallery smartphone kita, dan dalam sekejap bisa langsung dipamerin ke temen temen di social media. 

Buat cerita lengkapnya ada di Part 2 ya…

+ Built-in Flash

   Penting nih, masa kamera gambarnya bagus pas siang doank, kalo malem kan musti bagus juga donk. Padahal ga kepikiran ya kamera udah kecil mau naro flash dimana coba, tapi ya dasarnya insinyurnya pada pinter pinter udah ada dibuat mekanikal pop up, kayak gini nih.

kalo yang ini fotonya pake iPhone

 + Easy to Use

    Awalnya sih masih bingung, tapi ya 3-4 kali jepret lama lama juga terbiasa sama menunya. Lagian kalo ga mau ribet tinggal pake mode iA (intelligent Auto) aja langsung bagus kok gambarnya. Nah kalo mau ganti ganti mode juga ga susah, bisa learning by doing ga perlu buka buku manual.

Bad News!

 

– Battery Consumption

  Konsumsi batere menjadi kekurangan kamera GM1 ini. Dari info aslinya, sekali charge batere sanggup untuk menangkap hingga 300 gambar. Pada prakteknya ga jauh dari itu sih, dan yang bikin boros karena dia ga ada viewfinder, jadinya semuanya diliat pake layar LCD 3″. Selain itu baterenya juga lebih kecil dari biasanya, ya iya donk, kameranya aja mini, baterenya juga mini. Gw pikir, batere kecil gitu bisa di charge pake microUSB standar ya, jadi enak kan bisa dicolok powerbank, tapi tetep mesti pake chargeran bawaan jadinya.

– Price

  Berapa kira kira harganya? 4-5jt? salah. GM1 dijual sepaket dengan lensa bawaan dengan harga 8jt an. Lumayan mahal bagi gw, karena di harga segitu udah mulai banyak pilihannya, apalagi kalo yang masih mainstream kekeuh pake DSLR, yaudah ga bisa ngapa ngapain. Gw sih tadinya mikir kalo di harga 5jt pasti bakal laku kayak kacang goreng. Tapi emang teknologinya masih mahal, asal tau aja ya, elektronik itu makin kecil ya pasti makin mahal, karena peralatan di dalemnya kan dikecilin berarti perlu ekstra effort buat bikinnya

Verdict 

 

Menurut gw, kamera ini sangat cocok buat kalian yang kepengen punya kamera canggih tapi tetep pingin stylish waktu menggunakannya. Unsur canggih terwakili dari teknologi mirrorles, wifi, dan lensa yang bisa diganti ganti, disisi lain, tetep bisa stylish karena model dan warnanya yang ga ngebosenin. Selain itu, buat yang doyan liburan atau travelling, udah ga jamannya lagi lah bawa kamera DLSR gede dengan lensa yang juga gede, berat beratin tas aja itu mah. Sekarang udah ada yang namanya mirrorless, lebih ringkas, dan bahkan lebih canggih dengan kualitas gambar yang setara. Gw tau, hasil kamera smartphone kalian udah bagus, tapi percaya deh, hasil foto dari GM1 jauh lebih bagus.

Oke, semoga membantu dan ga bikin bingung.

Akhir kata, silahkan dinikmati hasil foto gw dengan kamera GM1 ini. Klik untuk memperbesar gambar ya…

Terima kasih kepada temen temen yang gambarnya ada disini, semua Range Rover dan Jag, Primavera warna warni, bagong, ade, jaka, ranggi dan bagus, semoga kalian tambah kece setelah ini. Buat Mba Nessa dan Mas Agung, terima kasih dan semoga sukses.

Regards,

Topiq

[REVIEW] LUMIX GM1 : An Intelligent Pocketable Size Mirrorless Camera (Part 1)

Selamat Siang!

Kali ini gw mau cerita tentang sebuah kamera yang cukup menarik. Menarik karena kamera ini mempunyai warna yang cerah dan mewah, menarik karena kamera ini punya teknologi canggih seperti lensa yang dapat diganti ganti dan teknologi wifi yang terintegrasi, menarik karena kamera ini ukurannya super mini. Mari saya perkenalkan….

Panasonic Lumix GM1

Design

Kata siapa cinta pada pandangan pertama itu ga ada? Coba lo perhatiin gambar diatas baik baik, mungkin untuk pertama kalinya lo bisa merasakannya. Anyway, pertama kalo gw pegang kamera ini, yang terlintas dalam pikiran gw adalah, keren! tapi kekecilan. Iya, untuk ukuran tangan gw yang jumbo ini kamera sekecil ini nantinya yang ada malah ga bisa digunakan dengan baik. Tapi, setelah mencoba pakai beberapa hari, mulai terbiasa juga tuh.

Bodinya terbuat dari Magnesium-alloy shell dan ditambahkan alumunium pada bagian atas dan bagian bawah, terasa sangat rigid ketika dipegang. Ga ringkih, sangat solid, dari bodinya ini kita akan tau kalo ini bukan kamera murahan, karena jujur aja, tambahan stainless steel memberikan dua kesan, pertama retro, yang kedua durable.

Perhatiin baik baik, ini kamera desainnya bener bener menggoda selera banget deh. Ga perlu buat motret, dijadiin objek juga udah cantik.

Coba kita bandingin dengan kamera sejenis

Image Courtesy: http://www.gizmodo.com

GM1 di tangan gw…

Spesifikasi

  • Type Mirrorless interchangeable lens
  • Lens mount Micro Four Thirds
  • Resolution (effective) 16 megapixels
  • Sensor size Micro four thirds
  • Dimensions 2.17 x 3.9 x 1.18 in
  • Weight 7.2 oz (~204 grams)
  • Released November 8, 2013

General

  • Type Mirrorless interchangeable lens
  • Lens mount Micro Four Thirds

Sensor

  • Resolution (effective) 16 megapixels
  • Sensor type CMOS
  • Sensor size Micro four thirds
  • ISO modes Auto, 200, 400, 800, 1600, 3200, 6400, 12800, 25600

Flash

  • Flash Internal
  • Flash modes Slow sync, Red-eye reduction

Shooting

  • Focus Autofocus (23 points), Manual
  • Autofocus features Tracking, AF assist lamp, Face / smile detection
  • Shutter speed 1/ 6000 – 60 secs

Imaging

  • Auto-bracketing Yes
  • Color space sRGB, Adobe RGB
  • Exposure modes Aperture priority, Shutter priority, Program
  • Exposure compensation Yes
  • Scene selection Yes
  • Scene selection type Portrait, Landscape, Sports, Night portrait, Night scene, Other

Other features

  • Self-timer Yes

Viewfinder

  • Viewfinder type LCD
  • Screen size 3 inches
  • Screen type LCD (Active, Color, Backlit)
  • Touchscreen Capacitive [finger]
  • Live view Yes

Image formats

  • Image formats JPEG, RAW
  • Quality settings Normal, Fine
  • Video recording Yes
  • Video codec support h.264 / AVC, MPEG-4
  • Resolution (max) 1920 x 1080 (1080p)

Connections

  • USB 2.0 (Micro-USB port)
  • WiFi Yes
  • WiFi type Internal
  • Video output Yes
  • Video outputs HDMI

Power

  • Battery size Rechargeable
  • Battery type Li-ion
  • Photos per charge (CIPA standard) 230


Size & weight

  • Dimensions 2.17 inches (h)
    3.9 inches (w)
    1.18 inches (d)
  • Weight 7.2 ounces


Pricing & availability

  • Availability Available
  • Released (US) November 8, 2013
  • Original price $699 USD


Colors

  • Black Amazon ID (ASIN): B00I2YLIJI
  • Silver UPC: B00I3KP15I
  • Orange Amazon ID (ASIN): B00I3KOW8K

Bersambung….

Part 2